Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Cinta dalam Diamku

Aku adalah seseorang yang mengagumi sosok dalam diamku. Pengagum seseorang tanpa siapapun manusia yang mengetahuinya. Tepatnya pada tahun 2015 lalu, kalau dihitung sudah 3 tahun ini aku mengaguminya. Mungkin akan hilang jika dia telah menemukan tambatan hatinya. Mudah-mudahan aku tambatan hatinya sehingga rasa kagum ini bisa aku bawa hingga menua tanpa hilang sedikitpun dimulai sejak 2015 dan seterusnya. Mungkin tanpa disadari ini berarti doa. hihi. Haduh, lupakan saja. Biar ini menjadi hayalanku semata. Namun jika Allah meridhoi juga boleh sih, gak apa-apa. 😊😊😊 Aku harus memulai cerita ini dari mana ya. Oke, mungkin yang diatas itu aku sedikit berdoa dalam tulisanku ini. Tapi kenyataan yang terjadi, tidak tahu kenapa Allah sering sekali menitipkan rasa kagum di hatiku terhadap makhluk-Nya, namun itu semua tidak berarti apa-apa, karena tidak satupun orang yang aku kagumi membalas rasa kagumku selama ini. Justru yang datang bukanlah orang yang diduga-duga dan kedatangannya kurang ku...

Kamu Kok GOBLOK Sih!

     Kalimat yang terdengar sangat kasar, yang sering terlontar dari mulut orang-orang pekerja atau hanya sekedar candaan ketika kita main bersama teman-teman. Kalimat "Kamu kok GOBLOK sih!" ini tidak ditujukan kepada siapa-siapa, hanya ditujukan kepada diriku sendiri. Sengaja ditulis hanya sekedar untuk memaksa diri sendiri untuk keluar dari zona yang selama ini dijalani. Mencari jalan untuk keluar dari zona yang selama ini terasa nyaman dan melalaikan.      Kenapa GOBLOK yang dipilih? Saya tahu bahwa di dunia ini, tidak ada manusia yang GOBLOK . Hanya ada manusia yang malas sehingga jauh dari potensi yang dimilikinya. Manusia yang hanya mau mencoba dan memilih, mana yang menurutnya nyaman untuk dijalani sehingga lupa bahwa potensi diri harus digali dan dikembangkan dengan cara yang tidak biasa. Potensi diri akan terus mengkerdil ketika seseorang tak mau bangkit dari keadaan nyaman yang sekarang dijalaninya. Mungkin ini yang sedang saya jalani, menjal...

Masihkah Ada Harapan itu?

    S ebagai manusia, sudah sewajarnya memiliki harapan dalam kehidupan. Termasuk aku yang sedang berharap kepada Tuhanku, serta ibu dan bapakku yang juga berharap pada-Nya, yang kemudian berusaha memikulkan salah satu harapan itu kepadaku. Aku, yang saat ini bisa dianggap tak muda lagi, yang sudah masuk pada tingkatan akhir perkuliahan. Yah, semester 7, memberikanku pandangan untuk berpikir apa yang harus aku lakukan ke depannya. Terutama untuk keluargaku. Seperti apa yang diharapkan orang tuaku kepadaku bahwa aku akan lulus tahun depan. Harapan yang harus aku wujudkan karena aku tidak mungkin terus menerus memberatkan orang tuaku dengan uang per semester dan biaya hidup sehari-hariku di kota rantauku saat ini. Ibu dan bapakku begitu berharap aku segera bekerja dan mendapatkan uang yang banyak agar kehidupan orang tuaku membaik. Selama ini keluargaku merupakan keluarga berkecukupan, dan membaik disini dalam artian aku mampu menjadi salah satu tulang punggung di keluar...