Sebagai manusia, sudah sewajarnya memiliki harapan dalam kehidupan. Termasuk aku yang sedang berharap kepada Tuhanku, serta ibu dan bapakku yang juga berharap pada-Nya, yang kemudian berusaha memikulkan salah satu harapan itu kepadaku. Aku, yang saat ini bisa dianggap tak muda lagi, yang sudah masuk pada tingkatan akhir perkuliahan. Yah, semester 7, memberikanku pandangan untuk berpikir apa yang harus aku lakukan ke depannya. Terutama untuk keluargaku.
Seperti apa yang diharapkan orang tuaku kepadaku bahwa aku akan lulus tahun depan. Harapan yang harus aku wujudkan karena aku tidak mungkin terus menerus memberatkan orang tuaku dengan uang per semester dan biaya hidup sehari-hariku di kota rantauku saat ini. Ibu dan bapakku begitu berharap aku segera bekerja dan mendapatkan uang yang banyak agar kehidupan orang tuaku membaik. Selama ini keluargaku merupakan keluarga berkecukupan, dan membaik disini dalam artian aku mampu menjadi salah satu tulang punggung di keluargaku, karena aku tau bahwa ibuku harus bersusah payah membagi finansial untuk keperluan rumah dan keperluanku agar cukup setiap bulannya. Aku menyadari, mungkin aku menjadi beban yang besar bagi ibu dan bapakku karena aku sendiri masih memiliki dua adik. Selama kuliah pun aku belum mampu menghasilkan uang sendiri, aku belum mampu mandiri, beasiswa pun aku belum pernah dapatkan. Ini menjadi beban tersendiri mungkin bagi Ibuku yang selama ini memperjuangkanku.
Harapan besar yang diletakkan orang tua padaku belum mampu aku wujudkan di usianya yang hampir atau bahkan telah masuk setengah abad. Semester 7, masa dimana tugas-tugas berat seperti skripsi mulai mengejar dan memburu. Waktu berlari begitu kencang sampai aku tak mampu mengejarnya. Aku, yang masih merangkak ini merasa sangat bersalah. Aku yang penuh kelemahan ini, membuatku lemah dalam melangkah. Jika mereka tau, orang tuaku yang tak pernah menyerah dalam menghadapiku ini mungkin harus merasakan pahitnya kecewa dengan sikapku yang mudah menyerah ini. Bahkan aku sering merasa, aku tidak mampu berjalan cepat di bidangku ini. Aku sering terjatuh dalam usahaku merangkak. Sehingga aku selalu mengalami ketertinggalan ketika teman-teman begitu kencang berlari. Bahkan aku sering berhenti dan melemah sebelum aku benar-benar melakukan sesuatu secara maksimal.
Bukan bermaksud aku santai dan bermalas-malasan. Mungkin iya bermalas-malasan, namun itulah yang menjadi hambatanku. Aku melemah karena sebelum berjuang aku sudah berpikir aku tak mampu. Aku dengan segala kelemahanku, bagaimana caraku mewujudkan harapanku yang besar yang selama ini aku letakkan di pundakku dan membawanya kemanapun aku pergi itu?. Aku berharap, kelak aku mampu mewujudkannya. Harapan orang tuaku begitu besar kepadaku, seharusnya aku mampu membakar semangatku untuk tak bermalas-malasan. Siapa coba yang mau mempertimbangkan, mengharapkan dan mempertahankan manusia sepertiku jika aku terus seperti itu. Aku begitu menggantungkan harapanku kepada-Nya. Dalam hidupku, aku hanya percaya kepada-Nya. Hanya Dia yang mau mempertahankan manusia lemah sepertiku untuk menjadi manusia kuat dan kelak dapat bermanfaat untuk sesama. Mampu mewujudkan harapan besar ibu dan bapakku yang telah dipikulkannya kepadaku. Aku membutuhkan semangat besar detik ini. Benar-benar membutuhkannya, membutuhkan pertolongan-Nya.
Komentar
Posting Komentar