Cinta dalam Diamku
Aku adalah seseorang yang mengagumi sosok dalam diamku. Pengagum seseorang tanpa siapapun manusia yang mengetahuinya. Tepatnya pada tahun 2015 lalu, kalau dihitung sudah 3 tahun ini aku mengaguminya. Mungkin akan hilang jika dia telah menemukan tambatan hatinya. Mudah-mudahan aku tambatan hatinya sehingga rasa kagum ini bisa aku bawa hingga menua tanpa hilang sedikitpun dimulai sejak 2015 dan seterusnya. Mungkin tanpa disadari ini berarti doa. hihi. Haduh, lupakan saja. Biar ini menjadi hayalanku semata. Namun jika Allah meridhoi juga boleh sih, gak apa-apa. 😊😊😊 Aku harus memulai cerita ini dari mana ya. Oke, mungkin yang diatas itu aku sedikit berdoa dalam tulisanku ini. Tapi kenyataan yang terjadi, tidak tahu kenapa Allah sering sekali menitipkan rasa kagum di hatiku terhadap makhluk-Nya, namun itu semua tidak berarti apa-apa, karena tidak satupun orang yang aku kagumi membalas rasa kagumku selama ini. Justru yang datang bukanlah orang yang diduga-duga dan kedatangannya kurang kuharapkan.
Kembali lagi cerita kenapa aku bisa mengaguminya, entah kenapa aku bisa mengaguminya. Ini berawal dari sebuah momen. Pada tahun 2015, dalam momen tersebut, dia menjadi "bisa dibilang" pembawa acara. Jadi, dia yang mengintruksikan, mengkoordinasikan ke temen-temen yang ikut acara ini, yang jelas dia yang memulai dan memandu sebuah acara tersebut. Dia berdiri di depan, dengan ke-kucluk-annya membawa jalannya pembukaan acara, dia sosok yang humoris sehingga apa yang dia lakukan dan dibicarakan akan selalu menghasilkan tawa banyak orang yang ada di depannya. Sementara dia berbicara dan melawak di depan, aku memperhatikannya, aku duduk diantara kerumunan peserta yang mengikuti acara tersebut. Mulai dari situ, aku mengaguminya. Aku melihatnya begitu unik, keren (berkemeja, mengenakan almamater dengan tangan penuh gelang dan juga jam tangan, serta berkacamata) dengan gaya khasnya itu aku jadi suka (aku mengatakan seperti ini, karena aku tipe perempuan tomboy "dulu" yang lebih menyukai gaya berpakain laki-laki ketimbang gaya pakaian perempuan. Itulah kenapa sejak SMP aku selalu dibilang tomboy. Sikap tomboy ini yang membuatku akhirnya jadi kayak laki-laki, memang dulu aku gak pernah suka gaya perempuan karena banyak perempuan yang terlalu centil. Gak cukup di gaya berpakaian tapi cara berjalan dan berperilaku. Masak iya orang keren ketemu orang keren, kan ya gak bagus dilihatnya. Itulah kenapa mulai tua ini, aku perlahan mulai menyukai gaya perempuan, karena banyak perempuan yang tertutup dan adem. Tapi sayangnya aku belum bisa bergaya pakaian yang mebuat mata melihatnya adem begitu. Oke, perlahan aku menjadi perempuan.
Berkata tentang perempuan, dulu di masa lalunya, dia pernah memiliki sosok perempuan yang kalau anak muda bilang "pacar". Yang namanya pacar ya, pasti dia sangat mencintai perempuan itu. Aku mulai kepo dulu, aku cek-cek masa lalunya. Aku temukan di akun sosial medianya perempuan yang dulu sempat mendampinginya. Perjalanan ini gak begitu saja berjalan setelah momen diatas selesai, karena selama setahun kedepan. Aku vakum dari penglihatan matanya, artinya aku tidak pernah ketemu lagi dengannya. Kalaupun memang aku bertemu, aku dan dia tidak saling mengenal.
Satu tahun kemudian, aku mulai memunculkan diriku untuk ke arah yang lebih baik, berusaha aktif dan bertemu teman-teman baru. Waktu itu pemilihan kepala bidang, kebetulan ia menjadi salah satu kepala bidang. Sudah dapat diduga bahwa dia memiliki pengikut yang begitu membludak khususnya para perempuan. Mungkin aku mengaguminya namun aku tetap berdiri diatas pendirianku memilih bidang yang aku mau, bukan memilih atas dasar kepala bidangnya sehingga aku melepaskan keputusanku. Tidak, aku tidak mau.
Dalam satu tahun berjalan, dalam banyak acara aku dan dia saling dipertemukan. Namun aku sadar, hanya aku yang memiliki perasaan ini, bukan dia. Meskipun aku sering ke-GR-an. Aku sangat sadar, mana mungkin ia menyukaiku. Seringnya beberapa acara yang akhirnya mempertemukanku dengannya sehingga dia mulai mengenalku. Maaf, mengenal atas dasar aku adalah anggota dalam sebuah bidang. Itu saja mungkin menurutnya. Tapi tidak menurutku karena aku semakin mengaguminya ketika harus bertemu dengannya. Tidak tahu kenapa, dia begitu cuek ketika menghubunginya dalam via chatting. Namun, ketika bertemu langsung, enak saja saat berbicara dengannya begitu menyenangkan, kocak, humoris dan tentunya kucluk. Aku pun sering dipertemukan, aku dan dia selalu lempar kekocakan, senyum dan ketawa ketika dalam sebuah momen dipertemukannya. Mungkin ini rasa GR saja, karena bisa jadi memang dia selalu berperilaku seperti itu kepada semua temannya baik laki-laki maupun perempuan. Momen GR lagi ketika sangat kebetulan aku dan dia bertemu, sehingga aku dibonceng dan pulang bersamanya. Seketika itu aku senang karena pernah dikasih kesempatan ngobrol banyak dengannya. Lebih tepatnya aku yang banyak curhat kepadanya. Namun tidak tahu kenapa, dia begitu cuek ketika aku berusaha ingin tahu kabarnya lewat basa-basi di chatting. Apa memang hanya orang-orang yang menjadi prioritasnya yang bisa menghubunginya. Sedihnya lagi, akhir-akhir ini aku selalu dicuekin ketika mencoba basa-basi membalas akun sosial medianya. Namun tidak pernah ada balasan balik. Sebegitu "bukan siapa-siapanya" aku ya. Bukan orang penting yang harus dibalas.
Cerita lagi tentang perempuan yang pernah singgah di hatinya, karena ia memutuskan hijrah, ia tidak kembali ke masa kelam seperti itu. Mereka tidak sama-sama lagi, tapi kenapa seolah mereka memberikan tanda kepada yang melihat mereka di sosial media bahwa mereka seperti mencoba cinta lama bersemi kembali. Aku takut, mereka saling mendoakan di setiap sujud mereka. Saling berharap satu sama lain untuk bisa dipersatukan di masa mendatang. Sekali lagi, hal seperti ini yang aku takutkan. Lantas kapan hatiku pernah terbalaskan oleh sosok yang aku kagumi?☹️☹️☹️☹️
Rasa ingin tahuku yang tinggi membuatku sesekali mengintip akun sosial medianya dan dia adalah perempuan yang terkenal dan cantik. Memang bisa apa dengan aku yang sangat sederhana ini dan tidak cantik.
Pernah sesekali aku mendoakan dia dalam sujudku, aku tidak memberanikan diri untuk mendoakannya sesering mungkin karena aku merasa sangat egois jika aku harus meminta seseorang sebelum aku mampu membahagiakan orang tuaku. Pernah sekali, karena begitu cueknya dia dalam via chatting, sekalinya dia membalasku, langsung seketika itu aku berangkat ambil air wudhu dan sholat dhuha dilanjutkan dengan mendoakannya di sela sujud. Aku lupa, balasan apa darinya sehingga aku senang dan girang sendiri.
Aku menyebut rasa kagumku kepadanya ini dengan sebutan "Cinta dalam Diamku", karena aku mengaguminya tanpa ada satu pun orang yang mengetahuinya. Hanya ada aku, hatiku dan Allah yang tau. Selama ini, banyak orang yang tahu ketika aku mengagumi seseorang. Tapi aku putuskan kali ini aku tak mau menyebarluaskannya. hehe. Biar menjadi rahasia hatiku. Aku
sempat terpikirkan pengen menjadikan ini sebagai cerita dan bisa tercetak dalam
novel (kalau bisa). Tapi ah sudahlah, Habis ini juga kalau dia nemuin tambatan hatinya juga
percuma buat apa.
Yah, lihat saja ke depan gimana endingnya. Tetap kecewa seperti biasa atau
rasa kagum ini bertumbuh dan bersemi hinga menua. Eaaa
Komentar
Posting Komentar